Al-Kindi dan Pemikirannya

                                   
                                                      
Al-Kindi


bersamaislam.com - Islam merupakan agama yang terus berkembang sesuai dengan zaman, dalam sejarah perkembangan Islam dapat dilihat dari banyak segi, mulai dari majunya keilmuwan, misal dari awal Islam dominan mengembangkan ilmu yang sifatnya Arab murni, kemudian para pemikiri Islam mulai mengenal pemikiran orang-orang selain Arab dengan menerjemahkan buku para pemikir dari luar Arab, bentuk inilah yang membuat Islam semakin maju dalam segi keilmuwan.

Jika berbicara keilmuwan kita mengetahui banyak sekali tokoh pemikir didalam Islam ini, namun dalam pembahasan kita kali ini menjelaskan tentang satu tokoh muslim yang dikenal dengan al-Kindi, sebagaimana sejarah mengatakan bahwa al-Kindi dikenal sebagai tokoh pertama dalam pengembangan Ilmu yang dipelajari dari luar Arab, khususnya ilmu filsafat, yang dalam istilah Yunani disebut philosofos. Dimana al-Kindi menterjemah buku-buku filsafat dari orang barat kemudian dipelajarinya dan di kembangkan dalam Islam, selain bergerak dalam bidang filsafat al-Kindi juga mendalami ilmu-ilmu dari arab murni dimasa kecilnya dengan dukungan dari ayahnya al-Kindi terbiayai dalam pengembangan ilmunya, dengan itu dia mampu kurang lebih memiliki 270 karya tulis. Dengan banyaknya karya tulis ini banyak orang-orang yang mengenal al-Kindi sebagai pemikir dalam perkembangan Islam.

A. Pembahasan

1. Biografi Al-Kindi

Al-Kindi. Nama yang sangat popular didalam Islam, siapakah al-Kindi ini? terus apa pengaruh terhadap Islam ini? Sehingga mampu dikenal banyak orang. Al-Kindi nama dinisbatkan kepada marga leluhurnya yang diambil dari suku besar Arab pra Islam, al-Kindi memiliki nama asli Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash’ats ibn Qais al-Kindi (Amroeni, 2006). Lahir di kufah, yang sekarang dikenal sebagai Iraq, tahun 801 M, pada masa bani Abassiyah dalam pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809 M). al-Kindi memilki seorang kakek al-Ash’ats ibnu Qois yang dikenal sebagai sahabat Nabi. 

Al-Kindi lahir dari keturunan bangsawan, ayahnya Ishaq ibn Imran merupakan seorang gubernur Kufah dimasa pimpinan al-Mahdi, al-Hadi, ar-Rasyid sehingga memilki bekal cukup untuk memenuhi kebutuhanya dalam belajar. Dalam pengembangan keilmuwan al-Kindi sengat didukung dengan peradaban pada masa itu, dimana masa itu merupakan masa Abassiyah dalam suasana intelektual dan sosio-politik yang dinamis, bukan hanya itu dalam masa ini juga banyak buku-buku yang dapat diakses untuk mengembangkan intelektual para pemuda, didukung dengan adanya Bait al-Hikmah yang memiliki peran dalam intelektual dan penerjemahan, dengan begini ilmu-ilmu yang di dapat semakin mudah. Selain itu dalam masa ini pula para penulis buku terdaftar sangat banyak, dikarenakan pemerintah mendukung lebih untuk para penulis buku, sampai setiap tulisan yang dibukukan di hargai dengan emas, penghargaa ini dilakukan dengan menimbangnya berat buku tersebut dengan emas. 

Dari bentuk suasana pemeritahan pada saat itu sangat menguntungkan bagi al-Kindi untuk mengakses literatur-literatur asli dari Yunani, didukung dengan bentuk ekonomi keluarga yang mampu. Dalam perjalanan intelektual, al-Kindi memilki dua tempat untuk mengembangkannya, yang pertama Kufah, selain sebagai tempat ia dilahirkan al-Kindi juga mendapat pembelajaran umum pada masa itu, yaitu al-Qur’an, tata bahasa Arab, fiqh, teologi, dan kesusasteraaan. Melihat kondisi masyarakat Kufah cenderung memilki fikiran rasional (aqliyah) sehingga membangun pemikiran al-Kindi untuk untuk mendalami ilmu sains dan filsafat pada masa seterusnya. 

Kedua, Baghdad, di Ibu kota pemerintahan bani Abassiyah inilah al-Kindi mulai mencurahkan dirinya untuk menterjemah dan menmpelajari ilmu filsafat, tidak hanya itu al-Kindi juga mengembangkan pemikiran rasionalnya secara lebih luas guna mengimbangi pemikir pada masa itu. Menurut al-Qifthi (1171-1248), al-Kindi terfokus untuk memperbanyak penterjemahan buku-buku filsafat, dengan penjelasan yang rumit al-Kindi mampu untuk mengartikan itu. Hal tersebut mampu dilakukanya karena bentuk penguasaan al-Kindi dalam bahasa Syiria dan Yunani. Yang menjadi induk tatanan bahasa karya-karya filsafat pada masa itu. Selain itu al-Kindi juga melakukan revisi terhadap penerjemahan orang lain. Misalnya hasil terjemahan Ibn Na’ima al-Himsi, seorang yang menterjemahkan buku Enneads dari kalangan Kristen.

Dari banyaknya penguasaan dalam keilmuan dan filsafatnya, al-Kindi menjadi akrab pada khalifah al-Makmun (813-833 M), mengingat sosok al-Makmun sendiri merupakan seorang yang mengkedepankan pemikiran rasional dan filsafat dan al-Kindi sendiri juga ahli dalam filsafat maka dari sini mulai terbangun hubungan baik. Dengan begini al-Kindi diangkat sebagai penasehat sekaligus guru pada masa khalifah al-Muktashim (833-842 M) dan al-Watsiq (842-847 M). Jabatan ini terus berlanjut hingga pada Khalifah Al Mutawakkil (847-861 M) awal. Kemudian Al kindi dipaksa untuk berhenti, ini disebabkan karena banyaknya orang yang iri dan dengki kepada kepintaran dan kecerdikan Al kindi, sehingga raja di hasut dan dipaksa untuk mencopot jabatan al-Kindi. Bentuk kedengkian tersebut dapat di lihat dari fitnah-fitnah yang dilontarkan kepada al-Kindi, kita dapat mengambil contoh bahwa Al kindi di tuduh sebagai orang kaya yang pelit dan masih banyak lagi tuduhan yang buruk kepada dirinya, dari sinilah nama Al kindi mulai sedikit hilang pada masa itu, namun hasil karyanya yang menjadikan Al kindi sampai sekarang masih dikenal oleh orang seluruh dunia.

Setelah itu al-Kindi mulai menyendiri hingga akhir hayatnya, menurut Atiyeh Al kindi meninggal dalam keadaan yang penuh dengan kesunyian dan kesendirian, dikatakan bahwa hanya terdapat keluarga dan orang-orang terdekat dia, tak sampai situ ini juga termasuk tanda dari pada matinya orang besar jasanya yang sudak dilupakan dan tidak di sukai, sekaligus merupakan kematian dari seorang filosof besar yang senang dalam kesunyian (Atiyeh:5).

2.  Pemikiran Al-Kindi Terhadap Perkembangan Ilmu

a) Pemikiran Filsafat Al-Kindi

Filsafat merupakan ilmu yang telah lama muncul dalam kehidupan manusia, ilmu ini memberikan penjelasan tentang bagaimana orang mencintai kebenaran. Dalam sejarah Islam ilmu ini mulai dikenal oleh kalangan muslim di masa Bani Abbasiyah tokoh Islam yang menjadi pembawa filsafat ini kedalam Islam sendiri adalah Al-Kindi sehingga dia dikenal sebagai bapak filsafat dalam Islam. Dalam konsep filsafatnya al-Kindi mendefinisikan dalam enam dan semua itu bercorak platoisme, dalam definisi ini al-Kindi beranggapan bahwa filsafat mengajarkan tentang ilmu ketuhanan, ilmu keesaan, ilmu keutamaan, serta apapun kajian keilmuan yang dapat di ambil manfaat oleh manusia. Al-Kindi juga berpandangan bahwa setiap teori yang dibuat oleh para filosof memiliki tujuan agar manusia dapat mengetahui kebenaran yang kemudian membawa manusia untuk mengatur amal perbuatan dalam bertindak, dan juga dengan kebenaran ini manusia mampu untuk menuju kesempurnaan (Basri, 2013).

Filsafat, menurut al-Kindi ialah batasan dalam mengetahui hakikat sejarah batas kemampuan seseorang, sedangkan tujuan filsafat dalam teori adalah mengetahui setiap kebenaran, dan dalam praktek mengarah pada pengamalan dari kebenaran tersebut, dalam konsep ini al-Kindi meletakkan kebenaran tertinggi adalah filsafat ketuhanan (Allah) yang memiliki makna luhur dan mulia. Dan yang melatarbelakangi dari sebab ('illah) dari setiap kebenaran/realitas. Oleh karena itu, filosof jika ingin memiliki kemuliaan dan kesempurnaan dalam pengetahuannya maka syarat utama harus mampu mencapai pengetahuan tentang filsafat ketuhanan ini. Pengetahuan tentang 'illah ini menjadi patokan dalam pengetahuan. karena Dialah (Tuhan) adalah paling mulia, awal dari jenis, awal dalam tertib ilmiah serta mendahului zaman karena Dia merupakan 'illah bagi zaman sendiri (Syam, 2010, 47).

Tak sampai disini, pemikiran al-Kindi dalam fisafat, ia juga memadukan agama dan filsafat dengan hal yang mendasari keyakinan yaitu kitab suci Al-Qur'an yang telah mewartakan argumentasi dari setiap ihwal kebenaran yang tidak pernah memiliki pertentangan dalam setiap doktrin yang dihasilkan oleh filsafat. Namun dalam proses perpaduannya tidak mungkin dapat sama jika tanpa mengakui bahwa alat kerja agama dan filsafat yang sama.

b) Pemikiran Al Kindi tentang Metafisika 

Al-Kindi merupakan orang yang sangat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, dengan begitu al-Kindi mampu menglkonsep bahwa dalam pengetahuannya dibagi kedalam dua bagian;

1. Pengetahuan ilahi (dari Tuhan langsung), yaitu pengetahuan yang hanya didapat oleh para Rasul dari Tuhan, dasar yang dipakai dalam menerima ini adalah keyakinan.
2. Pengetahuan manusiawi atau fisafat, dasar yang digunakan dalam pengetahuan ini adalah pemikirang secara rasional (Nasution, 1973).

Dalam hal ini al-Kindi dikenal sebagai tokoh filosof Islam yang menggagas bukti rasional para filosof tentang Tuhan, dari sini al-Kindi memilki konsep bahwa Tuhan tidak memiliki hakikat secara aniah atau mahiah. Tuhan bukanlah benda fisik yang dapat di tangkap indera, Tuhan juga bukan hal yang tersusun dari beberapa material, tak sampai situ juga dalam Tuhan juga tidak memilki aspek mahiah, Tuhan juga bukan seorang genus atau species, akan tetapi Tuhan merupakan dzat yang tidak serupa dengan mahluk, Tuhan itu Wahid (satu) tidak ada yang menyamainya, hal yang sama hanyalah sesuatu yang dibuat oleh Tuhan itu sendiri, dengan ini makna sama dapat diartikan sebagai mahluk buatan Tuhan. 

Sehingga dari sinilah munculnya ilmu metafisika al-Kindi ilmu yang dimulai dari penetapan unsur-unsur yang menyusun materi partikal. Semua hal yang mampu di lihat oleh indera merupakan juz’iyah (partikular) namun dari ghal ini al-Kindi berpendapat bahwa yang menjadi penting dari pembahasan ini bukanlah hal yang terlihat dengan indera itu, melainkan hal yang ada dibalik semua itu. Dalam metafisika ini al-Kindi memiliki beberapa pandangan untuk membuktikan kebenaran memahami ilmu ini. Pandangan ini terbangun karena adanya dua prinsip yang dibawa oleh Aristoteles yang kemudian di gunakan oleh al-Kindi, prinsip ini berisi tentang (1) sesuatu hal yang tidak terbatas tidak mampu berubah menjadi terbatas yang berwujud dalam bentuk aktual (2) bahwa materi, waktu serta gerak dapat muncul secara serentak atau bersamaan. Dari hal ini lah yang kemudian pandangan al-Kindi muncul untuk mengkritik pemikiran dari Aristoteles, kita dapat mengambil contoh dari pandangan al-Kindi yaitu “jika kita menyatakan bahwa semesta ini tidak terbatas, maka kita harus mengakui bahwa wujud aktual dari semesta ini juga tidak ada batasnya, sehingga ini bertentangan dengan prinsip pertama yang dinyatakan oleh Aristoteles bahwa wujud aktual adalah terbatas. Al-Kindi juga memiliki perbedaan lagi dalam masalah waktu dan gerak, dalam pemikiran Aristoteles mengatakan bahwa hal tersebut bersifat abadi, namu al-Kindi berpendapat lain, dia mengatakan bahwa waktu tidak sama dengan gerak, dia merasa bahwak waktu merupakan bilangan pengukur gerak. Sehingga waktu ini dapat dikatakan bukan sebagai bilangan tersendiri akan tetapi masuk pada berkesinambungan karena waktu merupakan jumlah dari bilangan terdahulu dan berikutnya. Sehingga dari sinilah konsep metafisika al-Kindi muncul dengan menyatakan bahwa ruang, materi, dan waktu merupakan sesuatu hal yang sama, sama-sama terbatas dan tercipta. 

c) Pemikiran Al-Kindi Tentang Jiwa dan Akal

Dalam penjelasan al-Kindi mengatakan bahwa jiwa tidak tersusun, tetapi penting, mulia, dan sempurna bagi manusia, dalam jiwa ini pemikiran al-Kindi tergagas dari dua tokoh filsafat, Aristoteles dan Plato, dari kedua pemikiran ini memunculkan pemikiran al-Kindi dengan mengatakan bahwa jiwa merupakan subtansi yang bersifat ilahiyah, rabbani, dan berasal dari Cahaya Pencipta, subtansi sedikit yang tidak fana’, subtansi yang turun dari dunia akal ke dunia indera dan mampu menyimpan masa lalu di dalam dirinya (Basri, 2013).

Dalam pemikiran al-Kindi dia mengatakan bahwa daya jiwa manusia terbagi menjadi tiga yaitu daya berfikir, daya marah, dan daya syahwat. Dalam pembagian ini dapat dikatakan bahwa daya berfikir merupakan persamaan dari pada akal ini sendiri. Dengan begini dapat dijelaskan lagi bahwa dalam akal ini memiliki tiga tingkatan, (1) akal yang masih bersifat potensi, (2) akal yang telah keluar dari potensial menuju aktual, (3) akal yang telah mencapai tingkatan kedua dari aktualisasi. Oleh sebab itu, dalam filsafat al-Kindi yang berkaitan dengan akal selalu memilki kaitannya dengan jiwa. Akal diletakkan sebagai penyimpan pengetahuan dan juga mampu mengontrol proses pembentukan pengetahuan melalui bantuan inderawi. Bagi al-Kindi sendiri akal ini berarti sebagai potensi yang ada dalam jiwa dan dapat berkemungkinan untuk bergerak menuju aktualisasi.

Dari semua pemikiran al-Kindi ini mengarah kepada gagasan tentang bagaimana manusia itu mampu memperdalam pengetahuannya tentang dirinya, dengan kata lain diri manusia ini masuk kedalam wilayah praktis dan bukan teoritis. Menurut al-Kindi, seorang filosof wajib untuk menempuh kesusilaan hidup. Karena, hal ini mampu melahirkan hikmah sejati dalam pengetahuan dan perbuatan. Kebijakan di cari tidak untuk diri sendiri, tapi untuk kebahagiaan, dan kebahagiaan ini terhubung dengan pengetahuan. Dengan pengetahuan ini mampu mengajak manusia agar terus terikat dengan tabi’at azali manusia adalah baik. Dengan begini manusia akan terus terbaungun sifat baiknya walaupun terkadang terdorong oleh nafsu untuk melakukan keburukan (Basri, 2013).

3. Karya-karya Al-Kindi

Tercatat dalam sejarah terdapat kurang lebih 270 karya yang di munculkan al-Kindi, namun melihat al-Kindi lebih terjun kepada filsafat maka yang dapat kita ambil dari karya al-Kindi pengetahuan tentang filsafat ini. Adapun karya al-Kindi dalam fisafat yaitu; kitab al-Kindi ila al-Mu’tasim billah fi falsafah al-Ula, kitab al-falsafah al-dakhilah wa al-Masail al-Mantiqiyah al-Muqtasha wa ma fauqo at-Tabi’iyyah, kitab fi Annahu fi Tanalu al-Falsafah ila bi al-Ilm al-Riyadhiyah, kitab fi Qasha Aristhuthalis fi al-Ma’qulat, Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam, kitab Ibarah al-Jawami’al-Fikriyah, Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah. Dan masih banyak lagi.

Ditulis oleh : Akmal Syarifudin Zaidan

Post a Comment

0 Comments